AD PLACEMENT

Andi Kedua Itu Ternyata Rayi

AD PLACEMENT

Bab 1 – Kereta Terakhir di Senen

Hujan turun ragu malam itu, menitik pelan di atap stasiun Senen. Lampu-lampu peron berpendar, memantul di genangan air yang tak sempat mengering. Aku dan Andi duduk di bangku besi, menunggu kereta terakhir. Sesekali, suara pengumuman menggema, memotong percakapan kami yang mengalir tanpa arah.

“Lo sadar nggak?” kata Andi tiba-tiba, menatap langit yang tak lagi pekat. “Hidup ini kayak kereta.”

Aku mengerutkan dahi. “Kereta?”

“Iya. Kita punya jadwal, punya tujuan. Tapi kalau lo ketinggalan, ya udah, nggak bisa balik.” Ia terkekeh pelan, tapi matanya serius. “Makanya, jangan cuma ngejar dunia. Sekali-sekali kejar diri lo sendiri.”

Aku tertawa hambar. “Bahasanya berat banget, Andi.”

Andi tersenyum, lalu menepuk pundakku. “Lo punya potensi besar. Gue cuma nggak mau lo sia-siakan. Yuk, jangan malas lagi soal ngaji. Sabtu besok setoran, kan?”

Aku mendesah, mengingat PR hafalan yang menungguku. “Iya, iya… hafalan gue udah separuh, kok.”

“Alhamdulillah. Sedikit demi sedikit. Nggak ada yang sia-sia kalau lo niat.”

Andi selalu begitu—tenang, sabar, dan mengingatkanku dengan cara yang nggak pernah bikin tersinggung. Dalam hening yang menyusul, aku sadar satu hal: aku beruntung punya dia.

Kereta terakhir akhirnya datang, deru mesinnya menggetarkan lantai peron. Kami berdiri. Andi menatapku lama sebelum naik.
“Nanti kalau kita beda cabang… lo jangan berubah.”
Aku tertawa kecil. “Gue usahain.”
“Dan kalau suatu hari lo butuh semangat lagi…” Ia menahan napas, lalu berkata lirih, “Akan ada Andi kedua.”

Aku mengerutkan alis. “Maksud lo?”
Andi tersenyum samar. “Lo bakal ngerti nanti.”

Aku menganggapnya bercanda. Waktu itu, aku yakin nggak akan ada yang bisa gantiin dia.


Bab 2 – Tiga Tahun Kemudian

Dentuman musik gym menyambutku malam ini. Aroma karet dan keringat menusuk hidung, berpadu dengan suara besi yang beradu. Aku berdiri di depan cermin besar, menatap bayangan wajahku sendiri yang basah oleh keringat.

“Ayo, satu lagi. Jangan nyerah di sini,” suara itu datang dari belakangku—tegas, tapi hangat.

Rayi. Sudah tiga sesi kami latihan bareng. Tangannya sigap memperbaiki posisiku. “Punggungnya lurus, bahu jangan turun,” katanya sambil menahan dumbbell di tanganku agar nggak jatuh.

Aku mengerang. “Berat, bro…”
“Berat itu wajar. Yang nggak wajar itu kalau lo nyerah.” Ia terkekeh, menyeka keringat di dahinya. “Ayo, satu lagi. Lo bisa.”

Dan entah kenapa, aku menurut. Selalu menurut.

Selesai latihan, kami melangkah ke warung nasi goreng dekat fitness center. Bau bawang putih yang ditumis menyambut kami, disusul suara sendok beradu dengan wajan. Kami duduk di bangku plastik, menyantap nasi goreng pedas sambil tertawa membahas hal-hal konyol.

“Temen-temen batch lo pada bilang gue ini apa, sih?” tanya Rayi sambil menyuap sendok ke mulutnya.
Aku tertawa. “Katanya lo orang terdekat gue sekarang.”
Rayi nyengir. “Ya nggak salah juga, kan? Lo nggak punya siapa-siapa di sini. Kalau bukan gue yang jagain lo, siapa lagi?”

Kata-katanya sederhana, tapi menohok. Aku menatapnya sekilas, lalu menunduk, mengaduk nasi gorengku yang sudah hampir habis. Ada rasa yang nggak bisa kujelaskan.


Dalam perjalanan pulang, aku teringat lagi pada Andi. Kata-katanya, tiga tahun lalu, di stasiun Senen.
Akan ada Andi kedua.
Aku dulu menganggapnya bualan, tapi sekarang… aku paham maksudnya.

Rayi bukan Andi. Ia nggak memberiku setoran hafalan, nggak mengingatkan soal tajwid. Tapi ia mengajarkanku hal lain: konsistensi, peduli, dan makna menjaga amanah bernama tubuh. Ia menegur kalau aku telat, menunggu di pintu gym sampai aku datang. Ia selalu bilang, “Lo kuat. Lo cuma belum percaya sama diri lo sendiri.”

Dan malam ini, di antara dentuman musik gym dan aroma nasi goreng, aku sadar—Andi kedua itu bukan sekadar bayangan. Ia nyata. Ia bernama Rayi.

Andi, kalau lo baca tulisan ini… izinkan gue menyebut nama lo dulu, lalu Rayi setelahnya di dalam setiap doaku. Kalian berdua adalah alasan gue nggak berhenti melangkah.

Doa terbaik untuk kalian. Karena gue mencintai kalian… karena Allah.


AD PLACEMENT
You might also like
THE FUNTASTIC FOUR: Hari Terakhir di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Hari Terakhir di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Malam Kedua di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Malam Kedua di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Tangkuban Perahu

THE FUNTASTIC FOUR: Tangkuban Perahu

THE FUNTASTIC FOUR: BRAGA

THE FUNTASTIC FOUR: BRAGA

THE FUNTASTIC FOUR: Perjalanan ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Perjalanan ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Expedisi ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Expedisi ke Bandung

AD PLACEMENT