Pagi itu, aku datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Langit masih agak buram, dan suasana di dalam ruangan belum sepenuhnya terbangun. Hanya ada dentingan pelan sendok dari pantry, dan aroma khas kopi yang menggantung di udara—aroma yang selalu berhasil mengantar pikiranku untuk mulai menata hari.
Aku menuang secangkir kopi hitam. Pahit. Tanpa gula. Sama seperti rutinitas pagi yang kadang terasa hambar kalau bukan karena tugas yang menanti. Tapi aku sudah terbiasa. Rasanya seperti cara halus untuk menyiapkan diri menghadapi realita—tanpa manis-manis yang pura-pura.
Aku duduk di meja dan membuka laptop, duduk disebelah sahabatku. Wajahnya ceria seperti biasa, dengan mata yang seolah sudah punya energi sendiri walau belum sarapan. Dia merogoh tasnya dan tiba-tiba di tangannya, ada sebungkus kecil snack.
“Buat nemenin kopi kamu,” katanya ringan, meletakkannya di gengaman tanganku.
Aku menatapnya dan tersenyum tipis. Dia nggak tahu—atau mungkin justru tahu persis—bahwa pagi ini agak berat. Bahwa semalam aku begadang bukan hanya karena kerjaan, tapi juga karena pikiran yang rasanya tak kunjung reda.
Tapi dia tidak bertanya apa-apa. Tidak banyak basa-basi. Hanya sebungkus kecil snack, dan kehadirannya yang seperti berkata: “Aku di sini. Kamu nggak sendiri.”
Lucu ya, kadang bentuk perhatian nggak datang dalam kalimat panjang atau pelukan hangat. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana: snack mungil untuk menemani kopi pahitku.
Dan entah kenapa, pagi ini… kopinya terasa sedikit lebih manis.
Makasih bro! Semoga rezekimu bertambah, selalu sehat dan dilancarkan semua aktivitasmu. aamiin