Catatan pendek buat Andi.
Andi, ramadan telah usai. Bulan yang kita sambut dengan suka cita dan harap, kini telah kembali pergi, meninggalkan kita dengan segenap kenangan, doa, dan… pertanyaan: “Apa yang tersisa dari Ramadan kali ini, andi?”
Setiap tahun, Ramadan datang membawa harapan. Kita menantikan malam-malam yang khusyuk, sahur hangat bersama keluarga, dan waktu berbuka yang mendekatkan hati. Kita berlomba-lomba dalam ibadah, berharap dosa-dosa luruh bersama air mata sujud malam. Namun kini, saat gema takbir tak lagi terdengar setiap malam, kita dihadapkan pada sebuah momen penting—evaluasi diri.
Apakah kita membaca Al-Qur’an karena semua orang melakukannya, atau karena ingin benar-benar dekat dengan Allah? Apakah shalat kita hanya sebatas gerakan, atau ada rasa tunduk yang jujur dalam hati?
Apakah kita menjadi lebih sabar? Lebih lembut dalam bicara? Lebih ringan tangan membantu sesama? Atau… apakah kita sudah kembali pada rutinitas lama, seakan Ramadan hanyalah jeda singkat yang lewat begitu saja?
Ia memperlihatkan siapa kita sebenarnya, dan siapa kita bisa menjadi. Ia mengajari kita bahwa hidup yang berkah bukan soal banyaknya harta, tapi tenangnya hati. Bukan soal puasa lapar, tapi puasa dari amarah, ghibah, dan kebiasaan buruk lainnya.
Jangan biarkan semangat Ramadan mati bersama akhir bulan, andi. Jadikan ia titik balik. Kita tidak harus sempurna, tapi kita bisa terus menjadi lebih baik. Sedikit demi sedikit. Istiqomah dalam hal-hal kecil: tetap menjaga shalat di awal waktu, tetap membaca satu ayat sehari, tetap menahan lisan dari menyakiti.
Awal dari kita yang baru, andi. Yang lebih tenang, lebih tulus, lebih mendekat kepada-Nya.
Dan jika Ramadan telah pergi, semoga jejaknya tetap tinggal—di hati kita, dalam akhlak kita, dalam hidup kita.
Andi, ayo lanjutkan program kita!