Lebaran hari kedua.
Ku arahkan motorku menuju jalan ke komplek pemakaman. Ya, aku mau berkunjung ke rumah Bapakku. Bersilaturahmi dari atas tanah merah. Dengan sebotol air yang kubawa dan sejumput kembang rupa warna yang kubeli dari pedagang kembang di depan komplek pemakaman. Hanya itu oleh-oleh yang kubawa buat bapak.
Assalamualaikum bapak.
kubersimpuh di depan makam itu. Rumah bapak tampak kotor, dedaunan kamboja tampak beberapa helai luruh di atas makam. Juga tanah merah yang mengotori dinding pusara bekas hujan semalam. Angin sepoy-sepoy membisikan kerinduan yang mendalam.
Cerita kecilku pernah mengajak bapak menaiki gunung diatas pemakaman. Itu kemauanku pada pagi itu mengajak bapak. Berdua kami menyusuri tapak demi tapak gunung hingga ke puncak. Gunung itu tidak terlalu tinggi, lebih tepatnya seperti perbukitan. Tangan bapak menggenggam tanganku hangat. Tak ada pembicaraan sepanjang perjalanan. Hanya rasa sayang yang kudapat dari genggaman bapak. Sepulang dari gunung di atas pemakaman itu, Emak marah besar! Aku takut kalau emak sudah marah. Tapi bapak melindungiku dari pukulan emak saat itu. Ya, itu kesalahan terbesarku, mengajak bapak pergi pagi itu ke gunung pada hari waktunya aku sekolah. Aku bolos sekolah hari itu!
Kakakku pernah bercerita, saat dia lahir di Makassar, Bapak berdinas di Maros, daerah dekat lapangan terbang Makassar saat itu. Keluargaku pernah tinggal di Makassar. Itu yang membuat kecintaanku pada orang-orang Makassar seperti saudara sendiri. Suatu saat nanti, aku ingin mengunjungi Maros, napak tilas perjalanan bapak di Makassar dan bertemu dengan andi juga dinda, sahabat terbaikku yang berasal dari Makassar.
Sebagai seorang militer, darah bapak mengalir di dadaku. Sayangnya, aku tidak dapat mengikuti jejak bapak di Militer, mungkin cucu atau cicitnya bapak yang akan meneruskan. Inshaa Allah.
Lamunanku terhenti saat orang-orang melewati depan makam bapak. Oh iya, aku belum membersihkan rumah bapak, dan menaburi dengan kembang setaman yang kubawa. Kusingkirkan dedaunan kamboja itu, kusirami air diatas pusara itu dan kutaburi kembang. Harum rumah bapak.
Kulafazkan doa terbaik untuk bapak
Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr minal mu’minîna wal muslimîn yarhamukumuLlâhul-mustaqdimîn minkum wa minnâ wal musta’khirîn, wa wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn
Bapak, apakah bapak kedinginan sendirian di dalam rumah ini?
Semoga kegelapan rumah bapak, menjadi terang benderang dengan amal ibadah bapak.
Semoga kesempitan rumah bapak, akan menjadi lapang dengan sedekah-sedekah yang telah dikeluarkannya
Semoga kesendirian di rumah bapak, akan selalu di temani Al Quran yang hadir di rumah bapak.
Semoga,
Bapak, aku merindukanmu.
